Label

Selasa, 12 Maret 2019

Rahasia di balik keperkasaan Michael phelps



Rahasia di balik keperkasaan Michael Phelps
Bisa jadi perenang adalah atlet yang punya pengaruh cukup signifikan bagi para penerus atau atlet muda. Legenda renang Amerika Serikat (AS), Michael Phelps, adalah contohnya.
Yusra Mardini, atlet pengungsi Olimpiade Rio 2016 asal Suriah, mengidolai perenang berusia 31 itu. Demikian pula perenang Afrika Selatan, Chad le Clos (24), yang juga akhirnya menjadi rival utama nan panas Phelps.
Le Clos kebetulan mengalahkan Phelps dalam nomor 200 meter gaya kupu-kupu putra di Olimpiade London 2012. Itu adalah salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam karier Phelps dan terjadi dalam nomor spesialisasinya.
"Chad pernah menyukai saya dan kemudian membenci saya. Dia bilang saya adalah pahlawannya, tapi sekarang tidak lagi," ujar Phelps seraya tertawa kepada New York Times.
Namun di Stadion Aquatics Olimpiade, Rio de Janeiro, Brasil, Selasa (9/8/2016), Le Clos gigit jari. Dalam final nomor 200 meter gaya kupu-kupu putra, dia hanya finis di urutan empat.
Medali emas direbut Phelps, medali perak diamankan perenang kejutan asal Jepang Masato Sakai (21), dan medali perunggu diambil perenang muda Hungaria Tamas Kenderesi (19).
Pada semifinal, Kenderesi sempat mengalahkan Phelps dengan keunggulan 1,16 detik. Tapi dalam final, Phelps memang ada di level berbeda untuk finis terdepan dengan catatan waktu 1 menit 53,36 detik.
Itulah medali emas ke-20 Phelps di olimpiade. Phelps meneteskan air mata ketika lagu kebangsaan AS berkumandang. Dia tahu telah mencapai sebuah rekor yang mungkin akan sulit dicapai atlet lain dalam waktu dekat.
Bahkan 70 menit berselang, Phelps meraih medali emas ke-21. Bersama tim AS, dia ikut menjuarai nomor estafet 4x200 meter gaya bebas putra. Dengan demikian dalam dua hari, Phelps telah meraih tiga medali emas --yang pertama dari nomor estafet 4x100 meter gaya bebas putra.
Adapun berkat keberadaan Phelps dan Ryan Lochte (32), AS menjuarai nomor estafet 4x200 meter gaya kupu-kupu putra dalam empat olimpiade terakhir. Permulaannya ada di Olimpiade Athena 2004.
Lochte, yang sama-sama perenang senior dengan Phelps, sudah meraih enam medali emas olimpiade. Namun secara individu, Lochte tidak sebesar Phelps.
The Huffington Post Australia menyebut Phelps ialah perenang terbesar sepanjang masa. Dia mengambil alih tongkat kejayaan dari perenang lain AS, Tom Malchow, pada Maret 2001.
Saat itu, Phelps mencetak rekor dunia dan kemudian menajamkan rekor itu delapan kali. Saat Phelps pertama kali mencetak rekor, Kenderesi masih berumur empat tahun.

Dokter penyakit dalam dan mantan pelatih fisik H Richard Weiner yang diwawancarai mengatakan faktor fisik Phelps memang menjadi penentu. Itu terutama ada pada pergelangan kakinya yang bisa melengkung lebih fleksibel dibanding kebanyakan orang.
Dengan pergelangan yang luwes, kaki Phelps bisa berfungsi layaknya fin bagi para penyelam. "Keluwesan pada pergelangan kaki memang memberi keuntungan," kata Weiner yang kini mengajar di fakultas kesehatan olahraga University of Wisconsin, Milwaukee.
Tapi Weiner lebih yakin bahwa kehebatan Phelps lebih banyak ditentukan oleh latihan ekstra keras dan motivasi lebih kuat dibanding pemain manapun. Dia tidak berhenti mengasah diri. Itu sebabnya dia masih bisa meraih tiga medali emas meski baru kembali dari pensiun.
Aktivitas bekam yang kini dijalani Phelps juga tidak diyakini obat mujarab. Tapi Phelps mengatakan bahwa dia punya motivasi terbesar sehingga bisa menjadi seperti sekarang.
Motivasi itu ada pada diri Ian Thorpe, raja renang gaya bebas asal Australia. Peraih lima medali emas olimpiade ini adalah panutan Phelps.
Bahkan Phelps bukan hanya cemburu pada prestasi Thorpe; tapi juga kemampuan menggunakan citra diri untuk menggaet sponsor.
"Saat Ian berjaya di kolam, dia belajar bagaimana berperilaku baik," tulis Phelps dalam buku otobiografinya, "No Limits: The Will to Succeed" (2008), yang dikutip Fox Sports Australia.
Dalam buku itu, Phelps mengaku belajar banyak dari Thorp yang punya julukan Thorpedo. "Saya selalu melihat Michael Jordan yang mampu mengubah dunia olahraga. Dan saya ingin mengubah dunia renang. Sedangkan Ian adalah Michael Jordan-nya Australia. Dia adalah raja," kata Phelps.
Dia misalnya mencontoh tendangan bertenaga ala Thorpe di dalam air. Kakinya begitu kuat sehingga bisa cepat berkelit di dalam air layaknya gerakan lumba-lumba.
Phelps menyebut teknik renang Thorpe itu revolusioner. "Lantaran saya adalah perenang gaya kupu-kupu, tendangan ala lumba-lumba relatif mudah dilakukan. Tapi saya gunakan itu untuk semua gaya, termasuk saat berbalik di gaya dada," katanya.
Dan tendangan khas lumba-lumba itu masih bisa disaksikan karena Phelps punya tiga nomor lagiuntuk dimainkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar