Label
- Atlit (30)
- Berita (7)
- Club (3)
- Event (1)
- Ilmu pengetahuan (1)
- Informasi (3)
- Kolam di NTB (14)
- Motivasi (4)
- Persahabatan (6)
- Produk (1)
Kamis, 14 Maret 2019
Rabu, 13 Maret 2019
Semangat Luar Biasa Atlet Renang Tanpa Kaki
Ujian yang mahaberat, jika disikapi dengan pikiran terbuka dan jiwa yang lapang, bisa mengobarkan semangat perjuangan yang tak gampang padam. Dan, semangat itulah yang dikobarkan seorang bocah bernama Qian Hongyan.
Kita memang kadang perlu belajar dari seorang bocah. Jika kita ingat kembali, semangat sebagai anak-anak sangat kuat untuk menerjang semua halangan dan tantangan. Satu contoh nyata adalah saat kita belajar berjalan. Meski jatuh berkali-kali, sebagai seorang bocah kita tentunya terus berusaha hingga benar-benar bisa berjalan seperti saat ini.
Dan, semangat ala bocah inilah yang-barangkali-mampu menjadi "bara api" yang terus menyala di tengah gelap dan kerasnya ujian bagi sesosok anak berusia belasan dari negeri China, Qian Hongyan. Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini-tiga tahun (tepatnya pada bulan Oktober 2000)-ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi.
Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal di Zhuangxia, China itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian. Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti kaki-kaki palsu lainnya.
Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan murah senyum-seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah layaknya kebanyakan anak normal.
Bersiap Mendunia ...
Dengan kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh.
Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan cita-cita Qian Hongyan untukikut menjadi seorang atlet.
Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada Zhang untuk dilatih menjadi seorang seorang juara.
Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab, menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya.
Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari, setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban, hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat.
Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero China dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan. Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia denganusahanya mewakili China pada tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade khusus orang cacat. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan.
Orang-orang dengan keterbatasan fisik semacam Qian biasanya tidak mendapat tempat di masyarakat luas. Mereka lebih sering dianggap beban daripada potensi yang terpendam. Itu sebabnya kebanyakan kaum difable (cacat) cenderung tersisih. Tetapi justru Tuhan menghadirkan mereka dalam kehidupan kita untuk mencelikkan ‘kebutaan’ kita akan kebesaran-Nya dalam memakai siapapun juga.
Sesungguhnya, kita berhutang kepada mereka yang tak mau menyerah kepada nasib, kepada keadaan dan kepada apa yang disebut oleh banyak orang sebagai takdir.
Tak ada cacat yang bisa memadamkan semangat hidup yang tetap berkobar bagi manusia yang tak pernah menyerah.:EVERYONE IS NUMBER ONE.
Ya, setiap orang adalah nomor satu! Tidak ada yang nomor dua! Semangat takkan pernah padam oleh keadaan selama kita masih belum menyerah!!
Bila yang cacat saja bisa berjuang dan mengalahkan kelemahannya untuk menjadi yang terbaik dan nomor satu, Jika Qian saja mampu, bagaimana dengan kita? mengapa kita yang masih sempurna justru menyerah pada keadaan?
Masuk SKO Ragunan, Atlet Renang NTB Bersemangat
Mataram (suarantb.com) – Selain Lalu Aji Kusuma Rinjani, Atlet NTB lainnya yang terpilih bergabung di SKO Ragunan adalah atlet renang, Ricky Alexander. Meski baru berusia 13 tahun, Ricky memang memiliki potensi yang bagus. Tak heran jika tim SKO Ragunan memilihnya.
Ditemui saat latihan pada Jumat, 2 September 2016, Ricky mengaku mulai belajar renang sejak kelas satu SD.
“Belajar renangnya sejak kelas satu SD, ikut kursus renang. Karena suka, terus lanjut sampai sekarang,” jelasnya.
Siswa SMPN 6 Mataram ini merasa sangat senang bisa terpilih belajar di SKO Ragunan. Dukungan dari orang tua juga sudah didapatnya. Sehingga langkah Ricky untuk bisa mengasah potensinya semakin mulus. Selain itu, Ricky juga semakin termotivasi karena kakaknya, Putri Ankie merupakan atlet renang andalan NTB. Ankie satu-satunya wakil NTB di PON Jabar.
Ricky telah mengukir banyak prestasi di cabang renang. Ia pernah meraih emas di nomor 50 meter gaya O2SN 2016 baru-baru ini. Selain itu, ia juga pernah mengikuti Kejurnas 2015, Tirta Mayura Cup 2015 dan RAPSI 2013 dan 2015.
Pelatih Ricky, Made Arta juga mengakui potensi anak didiknya yang dinilai bagus. “Ricky ini kemampuannya bagus, dia paling menonjol itu di gaya dada. Tetapi tidak menutup kemungkinan dia juga bisa bagus di gaya-gaya yang lain jika dilatih,” jelasnya.
Untuk meningkatkan kemampuan semua atlet binaannya, Made sering mengikutsertakan mereka dalam berbagai perlombaan. “Kami di sini, di Klub Tirta Mayura Swimming Club juga mengadakan event lokal, seperti Tirta Mayura Cup,” terangnya.
Mengenai waktu keberangkatan Ricky untuk bergabung dengan SKO Ragunan, masih menunggu keputusan dari pihak sana. “Kepastian jadwal berangkat ke sana belum jelas. Kami masih menunggu surat dari tim SKO dan Kemenpora,” tambahnya. (ros)
Perenang Berbakat NTB Mengundurkan Diri
MATARAM – Perenang junior Haris Raynor tak lagi membela NTB. Perenang cilik berbakat ini resmi mengundurkan diri.
Surat pengunduran dirinya dilayangkan ke Pengprov Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) NTB. Diketahui, prestasi Haris di dunia renang, khususnya di kelompok umurnya tidak diragukan lagi. Terakhir, dia meraih lima medali emas di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2016 lalu.
A�”Kita ajukan surat pengunduran diri itu tepatnya Desember 2016 lalu,” kata ayahanda Haris, Eko Esti Santoso, kemarin (22/2).
Haris mengundurkan diri dari PRSI NTB karena alasan mengikuti jejak ayahnya yang menjalankan bisnis di Jakarta.A� “Saya lebih fokus jalani bisnis di Jakarta. Jadi, Haris ikut dengan saya di Jakarta,” terang Eko.
Haris ini pernah membela DKI pada Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Indonesia (Krapsi) Desember 2016 lalu di Surabaya. Haris membela klub millenium DKI Jakarta. “Saat itu, Haris meraih medali emas di nomor beregu,” jelasnya.
Selain alasan bisnis, Eko memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk mengasah kemampuan Haris agar jauh lebih baik lagi. “Saya ingin melihat kemampuannya terus meningkat,” ujarnya.
Eko mengatakan, ketika Haris menyatakan mengundurkan diri dari PRSI, dia sempat dihubungi via Whatsapp. “Saya diajak untuk berdiskusi, mencari solusi terkait bagaimana seharusnya PRSI kedepan,” jelasnya.
Eko menyarankan pembinaan terhadap atlet dan pelatih harus ditingkatkan. Selain itu, event renang harus digeliatkan di NTB. “Saat ini di NTB sendiri event kurang. Jadi, untuk mengukur kemampuan atlet itu belum bisa dilakukan secara optimal,” ujar dia. (arl/r10)
Mengenal Putri Ankie, Atlet Renang Kota Mataram di Porprov 2018
Gadis berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas X SMAN 1 Mataram ini dulu adalah atlet renang Lombok Barat. Waktu itu gadis ini menyumbangkan beberapa medali emas untuk beberapa gaya. Bahkan waktu Porprov tersebut Lombok Barat keluar sebagai juara umum mengalahkan Kota Mataram.
Kini, KONI Kota Mataram memanggil Putri dan dimasukkan ke Pelatda Kenari Mataram untuk persiapan Porprov 2018 mendatang.
Putri yang ditemui usai dikukuhkan oleh Ketua KONI Mataram H. Mohan Roliskana, Senin (17/4) menuturkan, pada dasarnya dirinya berkeinginan membela Mataram sejak dulu. Tetapi pada saat itu belum ada kesempatan saja sehingga ia dipakai daerah lain. Ia menegaskan dirinya adalah putri asli Kota Mataram, besar dan bersekolah di Mataram.”Saya asli Mataram sekolah di Mataram jadi saya harus bela Mataram juga,” ungkapnya.
Untuk terus mengasah kemampuannya, ia selalu berenang dua sampai empat jam dalam satu hari. Aktivitas latihan biasa ia lakukan di kolam-kolam renang umum yang ada di Mataram sepulang sekolah. Ia hobi berenang. Ia sangat mencintai olahraga air ini. Orang tuanya juga sangat mendukungnya.” Daripada saya olahraga sepak bola tidak bisa, makanya saya renang,” ungkapnya berkelakar.
Pada saat membela Lobar dulu Putri tidak hanya turun di satu kelas saja, tetapi di banyak kelas sehingga bisa menyumbang banyak emas.
Pelatih renang Putri, Made Arta mengatakan, perpindahan Putri Ankie ke Mataram karena ia sudah mengundurkan diri sebagai atlet Lombok Barat per tanggal 1 April 2016. Pengunduran Putri sesuai dengan aturan dan prosedur Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).
Saat Porprov Putri turun pada 10 nomor Cabor renang. 10 nomor tersebut yakni nomor 50 meter gaya bebas, 50 meter gaya kupu-kupu, 50 meter gaya dada dan 50 meter gaya punggung. Selanjut Putri turun juga di 100 meter gaya bebas, 100 meter gaya dada, turun juga di nomor 200 meter gaya bebas, 200 meter gaya dada, IM dan nomor estafet gaya bebas. Pada pelaksanaan PON lalu Putri juga masuk, tetapi belum bisa mempersembahkan medali untuk NTB. “ Kita berharap semoga di Porprov nanti Putri bisa meningkatkan prestasinya,” harap Made.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)








































